Selasa, 25 Maret 2014

MAKALAH KEPERAWATAN TRANSKULTURAL “ RAMBU SOLO : UPACARA KEMATIAN DI TANA TORAJA ORANG MATI YANG HIDUP ” kebudayaan terunik



MAKALAH

KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

“ RAMBU SOLO : UPACARA KEMATIAN DI TANA TORAJA ORAN MATI YANG HIDUP




DI SUSUN
OLEH :
  

FADLI
NIM : 13 14201 007




SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) BONE
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
BONE - WATAMPONE
2014
  




DAFTAR ISI
                                                                                                                                                                                                   Halaman
KATA PENGANTAR………………………………………………………… i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I           PENDAHULUAN........................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah.......................................................... 1
B. Rumusan Masalah.................................................................... 1
C.     Tujuan Penulisan..................................................................... 2
BAB II         PEMBAHASAN........................................................................... 3
A.       Sekilas Tentang Budaya Tana Toraja..................................... 3
B.       Kepercayaan yang di Anut Masyarakat Tana Toraja............. 5
C.       Rambu Solo Upacara Kematian Tana Toraja......................... 6
1.         Prosesi Upacara Rambu Solo........................................... 7
2.         Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Rambu Solo............ 11
D.       Orang Mati yang Hidup di Tana Toraja................................. 13
1.         Sejarah Singkat Orang Mati yang Hidup di Tana
Toraja............................................................................... 14
BAB III        PENUTUP..................................................................................... 16
A.  Kesimpulan...........................................................................   16
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah…Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala rahmat dan hidayahnya segala pujian hanya layak kita aturkan kepada Allah SWT. Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta petunjuk-nya yang sungguh tiada berkira besarnya, sehingga penulisan dapat diselesaikan makalah yang penulis beri judul “RAMBU SOLO : UPACARA KEMATIAN DI TANA TORAJA ORANG  MATI YANG HIDUP”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapatkan banyak bantuan dari pihak lain, oleh karena itu penulis mengucapkan rasa berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang telah membantu, kedua orang tua dan segenap keluarga yang memberikan dukungan, moril, dan kepercayaan yang sangat berarti bagi penulis.
  Berkat dukungan mereka semua kesuksesan ini di mulai, dan semua ini bisa memberikan sebuah kebahagiaan dan menjadi bahan tuntunan kearah yang lebih baik. Penulis tentu berharap isi makalah ini tidak meninggalkan celah, berupa kekurangan dan kesalahan namun kemungkinan akan selalu tersisa kekurangan yang tidak di sadari oleh penulis.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mangharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaikuam Wr. Wb.
  
Watampone, 22 Maret 2014
                                    Penyusun     


                            Fadli
          


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Banyak sekali budaya di indonesia yang masih dianut oleh masyarakatnya dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Budaya itu beraneka ragam dan memilki kekhasan antara satu dan yang lainya. Dalam makalah ini kami mengangkat budaya dari Tana Toraja yang mana didaerah ini sangat dikenal tentang upacara kematiannya. Di Tana Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu Rambu Solo'. Rambu Solo' merupakan upacara penguburan dimana mayat yang berjalan menuju tempat peristerahatan yang terakhirnya. Berdasarkan keunikan itulah penulis mengangkat  judul ini.
B.     Rumusan Masalah
·         Bagaimana upacara kematian Rambu Solo di Tana Toraja?
·         Bagaimana orang yang mati hidup kembali di Tana Toraja?
C.    Tujuan Penulisan

Barlatar belakang uraian diatas dan rumusan masalah yang ada maka tujuan pembuatan makalah ini ialah untuk mengetahui upacara kematian rambu solo di Tana Toraja dan orang mati yang hidup.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sekilas Tentang Budaya Tana Toraja
Tana Toraja memiliki banyak keistimewaan dalam segi budaya, dan budaya ini sangat dikenal di seluruh indonesia bahkan dunia internasional, misalnya saja rumah adatnya yakni rumah asli Toraja yang disebut Tongkonan, tongkonan berasal dari kata ‘tongkon‘ yang berarti ‘duduk bersama-sama‘. Tongkonan selalu dibuat menghadap kearah utara, yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan.
Tongkonan berupa rumah panggung dari kayu, dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atap tongkonan berbentuk perahu, yang melambangkan asal-usul orang Toraja yang tiba di Sulawesi dengan naik perahu dari Cina. Di bagian depan rumah, di bawah atap yang menjulang tinggi, dipasang tanduk-tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau ini melambangkan jumlah upacara penguburan yang pernah dilakukan oleh keluarga pemilik tongkonan. Di sisi kiri rumah (menghadap ke arah barat) dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih, sedangkan di sisi kanan (menghadap ke arah timur) dipasang rahang babi. Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara.
Dalam paham orang Toraja, tongkonan dianggap sebagai ‘ibu‘, sedangkan alang adalah sebagai ‘bapak‘. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut ‘tangalok‘, berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, juga tempat meletakkan sesaji. Ruangan bagian tengahdisebut ‘Sali‘, berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat meletakkan orang mati, juga dapur. Adapun ruangan sebelah selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Ruangan sebelah selatan ini juga dianggap sebagai sumber penyakit. Mayat orang mati tidak langsung dikuburkan, tetapi disimpan di tongkonan. Sebelum dilakukan upacara penguburan, mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘. Supaya tidak busuk, mayat dibalsem dengan ramuan tradisional semacam formalin, yang terbuat dari daun sirih dan getah pisang. Jika akan dilakukan upacara penguburan, mayat terlebih dulu disimpan di lumbung padi selama 3 hari. Peti mati tradisional Toraja disebut ‘erong‘, berbentuk babi untuk perempuan dan kerbau untuk laki-laki. Untuk bangsawan, erong dibuat berbentuk rumah adat.
B.     Kepercayaan yang di Anut Masyarakat Tana Toraja
Orang Toraja memiliki satu sistem kepercayaan yang disebut Alukta. Agama ini sering disebut Aluk Todolo untuk menggambarkan bahwa agama ini adalah asli ciptaan leluhur orang Toraja. Disadari atau tidak, satu pandangan yang masih dianut dan dipraktikkan oleh hampir sseluruh masyarakat Toraja adalah pandangan tentang kehidupan yang berputar.
Manusia berasal dari langit, turun ke bumi – kehidupan di bumi – dan kembali lagi ke langit setelah mengalami transformasi. Pandangan ini nampak dalam semua aspek budaya Toraja. Misalnya dalam lagu-lagu duka ( badong ) narasi bergerak dalam tema ini : manusia lahir dari langit, turun ke bumi dan kembali lagi ke langit ( ossoran ). Rumah Tongkonan ( rumah adat Toraja ) dan alang ( lumbung padi ) didirikan mengikuti arah dari selatan ke utara sampai titik zenit tertinggi atau sebaliknya dari utara ke selatan ke langit tertinggi.
C.    Rambu Solo Upacara Kematian Tana Toraja
Tana Toraja memiliki tradisi upacara pemakaman yang rumit. Upacara yang disebut dengan Rambu Solo ini adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mengharuskan pihak keluarga mengadakan sebuah pesta sebagai penghormatan terakhir bagi sang mendiang.
Upacara Rambu Solo ini dikatakan upacara yang rumit karena memiliki sejumlah tingkatan sesuai dengan status sosial mendiang dan keluarganya. Biasanya jenazah tadi disertai pula dengan patung yang menggambarkan diri sang mendiang. Patung ini disebut tau - tau. Kemudian, pada prosesi terakhir, mayat tadi dibawa ke tebing dan diletakkan di dinding tebing begitu saja. Dan ajaibnya, seperti , mayat yang diletakkan di dinding itu tidak mengeluarkan bau busuk.
Menurut ajaran Aluk Todolo ( kepercayaan masyarakat setempat), rumah adat toraja yang bernama Tongkonan itu mempunyai makna khusus. Menurut mereka, manusia yang hidup maupun yang telah meninggal itu sama saja. Jika masyarakat yang masih hidup berkumpul di dalam rumah mereka, yaitu Tongkonan, maka mereka yang telah meninggal berkumpul di tempat yang khusus dibuat sebagai "pasangan" Tongkonan yang disebut Liang.
Menurut ajaran Aluk Todolo, meninggalnya manusia hanya sebagai perubahan status saja dari kehidupan nyata ke alam gaib. Karena itu, manusia yang telah meninggal harus mendapat perlakuan yang sama dengan yang masih hidup. Salah satunya adalah ketika membangun Tongkonan tadi, maka harus dibangun pula Liang sebagai pasangannya.
1.      Prosesi Upacara Rambu Solo
Bagi masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’ maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya masih ‘sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.
Jika keluarga si mati itu belum mampu melaksanakan upacara Rambu Solo, jenazah itu akan disimpan di tongkonan (rumah adat Toraja) sampai pihak keluarga mampu menyediakan hewan kurban untuk melaksanakan upacara tersebut. Penyimpanan jenazah itu bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Setelah pihak keluarga mampu menyediakan hewan kurban tersebut, barulah Rambu Solo dilaksanakan. Jenazah dipindahkan dari rumah duka ke tongkonan tammuon (tongkonan pertama tempat dia berasal). Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.
Jenazah berada di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
Setelah disimpan satu hari, jenazah dipindahkan ke tongkonan yang lebih tinggi, yaitu tongkonan barebatu. Prosesinya juga sama saat jenazah itu dipindahkan ke tongkonan tammuon., yaitu penyembelihan kerbau dan pembagian dagingnya kepada orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
Seluruh prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu sekitar pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di tongkonan barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).
Jenazah diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para wanita dalam keluarga itu).
Prosesi pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante dilakukan setelah kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut mengusung keranda tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita yang menarik lamba-lamba.
Dalam pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan tompi saratu (atau yang biasa kita kenal dengan umbul-umbul), lalu tepat di belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba dan yang terakhir barulah duba-duba.
Jenazah tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.
Iring-iringan jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Menara itu merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada di rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.
Setelah jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu sanak saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah prosesi penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong (adu kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo’, adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu.
Selama beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante. Sore harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan di tebing maupun yang di patane’ (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).
2.      Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Rambu Solo
Upacara Rambu Solo memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, di antaranya adalah gotong royong dan tolong-menolong. Meskipun terlihat sebagai pemborosan karena mencari harta untuk dihabiskan dalam suatu kematian, unsur gotong royong yang terlihat sangatlah jelas, contohnya dalam hal penyediaan kerbau. Suatu keluarga yang dirundung duka (yang ditinggal mati) mendapat sumbangan kerbau, babi, atau uang dari sanak keluarganya untuk melangsungkan Rambu Solo.
Unsur tolong-menolong pun juga berperan dalam pelaksanaan Rambu Solo. Upacara ini dilakukan oleh siapa pun yang mampu. Biasanya, ada juga pembagian daging kerbau kepada orang-orang yang tidak mampu. Hal ini menyebabkan adanya pengurangan kesenjangan sosial.
Selain dua nilai di atas, nilai religi juga tampak dari upacara Rambu Solo. Masyarakat Toraja memaknai kematian sebagai suatu hal tak ditakuti karena mereka percaya bahwa ada kehidupan setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga, asal-muasal leluhur. Dengan kata lain, mereka percaya adanya kehidupan setelah kematian.
Dalam upacara kematian Rambu Solo, kesedihan tidak terlau tergambar di wajah-wajah keluarga yang berduka, sebab mereka punya waktu yang cukup untuk mengucapkan selamat jalan kepada si mati, sebab jenazah yang telah mati biasanya disimpan dalam rumah adat ( tongkonan ), disimpan bisa mencapai hitungan tahun. Maksud dari jenazah disimpan ada beberapa alasan, pertama adalah menunggu sampai keluarga bisa atau mampu untuk melaksanakan upacara kematian Rambu Solo, kedua adalah menunggu sampai anak-anak dari si mati datang semua untuk siap menghadiri pesta kematian ini. Karena mereka menganggap bahwa orang yang telah mati namun belum diupacarakan tradisi Rambu Solo ini dianggap belum mati dan dikatakan hanya sakit, karena statusnya masih “ sakit “. Orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan sebagai orang yang masih hidup.
D.    Orang Mati yang Hidup di Tana Toraja
Dari uraian ini tampaklah bahwa keunkan Toraja terletak pada pandangan yang berhubungan dengan human agency, keagenan manusia
( Giddens, 1990, Centrals problems In Social Theory ) dalam menangani kekuatan-kekuatan alam gaib. Tetapi uniknya, mereka tidak tunduk pada alam gaib khususnya  yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan supernatural.
Ada kekaguman bahkan ketakutan dihadapannya, namun ada upaya mengontrolnya, dan bersahabat dengannya. Manusia dapat mengontrol alam gaib ( arwah ) dan inilah yang membedakan dengan agama besar lainnya dengan manusia selalu tunduk pada Sang Ilahi..
Ini pulalah yang menjelaskan mengap orang mati diperlakukan sebagai orang hidup. Orang mati tidak pernah mati, tetapi selalu hidup. Bukan hanya sebagai suatu pandangan hidup, melainkan sesuatu yang masih dipraktikkan sampai sekarang. Mereka sangat akrab dengan si “sakit” bahkan tidur bersamanya. Di Toraja Utara, kalau pasangan hidup mati, sang istri atau sang suami tidur bersama dengan si mati dalam suatu kelambu.
Di sebuah desa Sillanang, ditemukan sebuah kuburan masal. Kuburan masal itu terletak di sebuah gua, dan penduduk setempat mengatakan bahwa mayat yang disimpan disana tidak pernah membusuk.
Disamping kuburan yang ajaib itu, ada pula sebuah kisah mengenai mayat berjalan yang dikendalikan oleh seorang pawang. Mayat itu dikatakan berjalan layaknya orang yang masih hidup, hanya saja cara berjalannya agak terseok - seok.
Mayat itu dikendalikan dengan tujuan untuk menuntunnya kembali ke tujuan akhirnya, yaitu rumahnya sendiri. Diceritakan dahulu orang Toraja senang menjelajah daerah - daerah pegunungan. Mereka tidak menggunakan alat transportasi apapun ketika menjelajah. Dalam penjelajahan yang berat itu, beberapa orang tidak kuat untuk melanjutkan lagi dan jatuh sakit. Karena bekal dan obat - obatan yang dibawa sangat minim, anggota mereka yang sakit tadi akhirnya meninggal.
Karena mustahil untuk meninggalkan mayat rekan mereka, dan akan sangat merepotkan bila harus membawa pulang jenazahnya, maka dengan suatu ritual gaib, mereka membangkitkan mayat tersebut dan mengendalikannya. Mereka menuntun mayat itu sampai ke rumahnya. Ada pantangan yang tidak boleh dilakukan selama mayat itu belum sampai di rumahya, mayat tidak boleh disentuh dengan orang lain kecuali pawang, jika dilakukan, maka mantra yang ada pada sang mayat akan hilang.
1.      Sejarah Singkat Orang Mati yang Hidup di Tanah Toraja
Cerita orang mati yang hidup sudah ada sejak dahulu kala. ratusan tahun yang lalu konon terjadi perang saudara di Tana toraja yakni orang Toraja Barat berperang melawan orang Toraja Timur. dalam peperangan tersebut orang Toraja Barat kalah telak karena sebagian besar dari mereka tewas, tetapi pada saat akan pulang ke kampung mereka seluruh mayat orang Toraja Barat berjalan, sedangkan orang Toraja Timur walaupun hanya sedikit yang tewas tetapi mereka menggotong mayat saudara mereka yang mati, karena kejadian tersebut maka peperangan tersebut dianggap seri. pada keturunan selanjutnya orang-orang Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri ke liang kuburnya.

\
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Indonesia mempunyai banyak kebudayaan salah satunya yang terdapat di  tana toraja, kebudayaan ini selain unik dan mearik juga menganadung nilai sepiritual yang tinggi, jadi mesti dilestarikan, selain itu dapat pula menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Keistimewaan upacara rambu solo terdapat pada puncak dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung dengan cara mayat yang mati berjalan untuk disemayamkan  (ma‘popengkalo alang) , dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir (ma‘palao).


DAFTAR PUSTAKA
Saransi. Ahmad.  Tradisi Masyarakat di Sulawesi Selatan,Makassar:
 Lamacca Press, 2003
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan,  Adat dan Upacara Kematian Daerah Sulawesi Selatan,
Makassar: 14 Juli 2006.

wikipedia.org, www.korantempo.com, mamasa-online.blogspot.com,( diakses tanggal 20 maret 2014 )
 onezimus.wordpress.com ( diakses tanggal 20 maret 2014 )
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja ( diakses tanggal 21 maret 2014 )




 catatan : ini hanyalah karangan dan fiksi jika ada kesalahan yang sebenarnya di lapangan penulis minta maaf sebesar-besarnya...