MAKALAH
KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
“ RAMBU SOLO : UPACARA
KEMATIAN DI TANA TORAJA ORAN MATI YANG
HIDUP ”
DI SUSUN
OLEH :
FADLI
NIM : 13 14201 007
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) BONE
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
BONE - WATAMPONE
2014
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR………………………………………………………… i
DAFTAR
ISI...................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN........................................................................ 1
A.
Latar Belakang Masalah.......................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................... 1
C. Tujuan
Penulisan..................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN........................................................................... 3
A. Sekilas
Tentang Budaya Tana Toraja..................................... 3
B. Kepercayaan
yang di Anut Masyarakat Tana Toraja............. 5
C. Rambu
Solo Upacara Kematian Tana Toraja......................... 6
1.
Prosesi Upacara Rambu Solo........................................... 7
2.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Rambu
Solo............ 11
D. Orang
Mati yang Hidup di Tana Toraja................................. 13
1.
Sejarah Singkat Orang Mati yang Hidup di
Tana
Toraja............................................................................... 14
BAB
III PENUTUP..................................................................................... 16
A. Kesimpulan...........................................................................
16
DAFTAR
PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Alhamdulillah…Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas
segala rahmat dan hidayahnya segala pujian hanya layak kita aturkan kepada
Allah SWT. Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta
petunjuk-nya yang sungguh tiada berkira besarnya, sehingga penulisan dapat
diselesaikan makalah yang penulis beri judul “RAMBU SOLO : UPACARA KEMATIAN DI TANA TORAJA
ORANG MATI YANG HIDUP”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak
mendapatkan banyak bantuan dari pihak lain, oleh karena itu penulis mengucapkan
rasa berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka yang telah membantu,
kedua orang tua dan segenap keluarga yang memberikan dukungan, moril, dan
kepercayaan yang sangat berarti bagi penulis.
Berkat
dukungan mereka semua kesuksesan ini di mulai, dan semua ini bisa memberikan
sebuah kebahagiaan dan menjadi bahan tuntunan kearah yang lebih baik. Penulis
tentu berharap isi makalah ini tidak meninggalkan celah, berupa kekurangan dan
kesalahan namun kemungkinan akan selalu tersisa kekurangan yang tidak di sadari
oleh penulis.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan
saran yang membangun agar makalah ini dapat menjadi lebih baik lagi. Akhir
kata, penulis mangharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamu’alaikuam
Wr. Wb.
Watampone, 22
Maret 2014
Penyusun
Fadli
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Banyak sekali
budaya di indonesia yang masih dianut oleh masyarakatnya dan diwariskan kepada
generasi selanjutnya. Budaya itu beraneka ragam dan memilki kekhasan antara
satu dan yang lainya. Dalam makalah ini kami mengangkat budaya dari Tana Toraja
yang mana didaerah ini sangat dikenal tentang upacara kematiannya. Di Tana
Toraja sendiri memiliki dua upacara adat besar yaitu Rambu Solo'. Rambu Solo'
merupakan upacara penguburan dimana mayat yang berjalan menuju tempat
peristerahatan yang terakhirnya. Berdasarkan
keunikan itulah penulis mengangkat judul ini.
B. Rumusan Masalah
·
Bagaimana
upacara kematian Rambu Solo di Tana Toraja?
·
Bagaimana orang
yang mati hidup kembali di Tana Toraja?
C. Tujuan Penulisan
Barlatar belakang uraian diatas dan
rumusan masalah yang ada maka tujuan pembuatan makalah ini ialah untuk
mengetahui upacara kematian
rambu solo di Tana Toraja dan orang mati yang hidup.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sekilas
Tentang Budaya Tana Toraja
Tana Toraja memiliki
banyak keistimewaan dalam segi budaya, dan budaya ini sangat dikenal di seluruh
indonesia bahkan dunia internasional, misalnya saja rumah adatnya yakni rumah asli Toraja yang disebut Tongkonan, tongkonan berasal dari kata ‘tongkon‘ yang
berarti ‘duduk bersama-sama‘. Tongkonan selalu dibuat menghadap kearah utara,
yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Berdasarkan penelitian arkeologis,
orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini
kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan.
Tongkonan berupa rumah panggung dari
kayu, dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau.
Atap tongkonan berbentuk perahu, yang melambangkan asal-usul orang Toraja yang
tiba di Sulawesi dengan naik perahu dari Cina. Di bagian depan rumah, di bawah
atap yang menjulang tinggi, dipasang tanduk-tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau
ini melambangkan jumlah upacara penguburan yang pernah dilakukan oleh keluarga
pemilik tongkonan. Di sisi kiri rumah (menghadap ke arah barat) dipasang rahang
kerbau yang pernah di sembelih, sedangkan di sisi kanan (menghadap ke arah
timur) dipasang rahang babi. Di
depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut ‘alang‘. Tiang-tiang
lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (‘bangah‘) yang licin, sehingga
tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat
berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol
untuk menyelesaikan perkara.
Dalam paham orang Toraja, tongkonan
dianggap sebagai ‘ibu‘, sedangkan alang adalah sebagai ‘bapak‘. Tongkonan
berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina
kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara,
tengah, dan selatan. Ruangan di bagian utara
disebut ‘tangalok‘, berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, juga
tempat meletakkan sesaji. Ruangan bagian tengahdisebut ‘Sali‘, berfungsi
sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat meletakkan orang mati, juga
dapur. Adapun ruangan sebelah selatan disebut ‘sumbung‘, merupakan ruangan
untuk kepala keluarga. Ruangan sebelah selatan ini juga dianggap sebagai sumber
penyakit. Mayat orang mati tidak langsung
dikuburkan, tetapi disimpan di tongkonan. Sebelum dilakukan upacara penguburan,
mayat tersebut dianggap sebagai ‘orang sakit‘. Supaya tidak busuk, mayat
dibalsem dengan ramuan tradisional semacam formalin, yang terbuat dari daun
sirih dan getah pisang. Jika akan dilakukan upacara penguburan, mayat terlebih
dulu disimpan di lumbung padi selama 3 hari. Peti mati tradisional Toraja
disebut ‘erong‘, berbentuk babi untuk perempuan dan kerbau untuk laki-laki.
Untuk bangsawan, erong dibuat berbentuk rumah adat.
B. Kepercayaan
yang di Anut Masyarakat Tana Toraja
Orang Toraja memiliki satu sistem
kepercayaan yang disebut Alukta. Agama ini sering disebut Aluk Todolo
untuk menggambarkan bahwa agama ini adalah asli ciptaan leluhur orang Toraja.
Disadari atau tidak, satu pandangan yang masih dianut dan dipraktikkan oleh
hampir sseluruh masyarakat Toraja adalah pandangan tentang kehidupan yang
berputar.
Manusia berasal dari langit, turun
ke bumi – kehidupan di bumi – dan kembali lagi ke langit setelah mengalami
transformasi. Pandangan ini nampak dalam semua aspek budaya Toraja. Misalnya
dalam lagu-lagu duka ( badong ) narasi bergerak dalam tema ini : manusia
lahir dari langit, turun ke bumi dan kembali lagi ke langit ( ossoran ).
Rumah Tongkonan ( rumah adat Toraja ) dan alang ( lumbung padi )
didirikan mengikuti arah dari selatan ke utara sampai titik zenit tertinggi
atau sebaliknya dari utara ke selatan ke langit tertinggi.
C. Rambu
Solo Upacara Kematian Tana Toraja
Tana
Toraja memiliki tradisi upacara pemakaman yang rumit. Upacara yang disebut
dengan Rambu Solo ini adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang
mengharuskan pihak keluarga mengadakan sebuah pesta sebagai penghormatan
terakhir bagi sang mendiang.
Upacara
Rambu Solo ini dikatakan upacara yang rumit karena memiliki sejumlah tingkatan
sesuai dengan status sosial mendiang dan keluarganya. Biasanya jenazah tadi
disertai pula dengan patung yang menggambarkan diri sang mendiang. Patung ini
disebut tau - tau. Kemudian, pada prosesi terakhir, mayat tadi dibawa ke tebing
dan diletakkan di dinding tebing begitu saja. Dan ajaibnya, seperti , mayat
yang diletakkan di dinding itu tidak mengeluarkan bau busuk.
Menurut
ajaran Aluk Todolo ( kepercayaan masyarakat setempat), rumah adat toraja yang
bernama Tongkonan itu mempunyai makna khusus. Menurut mereka, manusia yang
hidup maupun yang telah meninggal itu sama saja. Jika masyarakat yang masih
hidup berkumpul di dalam rumah mereka, yaitu Tongkonan, maka mereka yang telah
meninggal berkumpul di tempat yang khusus dibuat sebagai "pasangan"
Tongkonan yang disebut Liang.
Menurut
ajaran Aluk Todolo, meninggalnya manusia hanya sebagai perubahan status saja
dari kehidupan nyata ke alam gaib. Karena itu, manusia yang telah meninggal
harus mendapat perlakuan yang sama dengan yang masih hidup. Salah satunya
adalah ketika membangun Tongkonan tadi, maka harus dibangun pula Liang sebagai
pasangannya.
1.
Prosesi Upacara Rambu Solo
Bagi
masyarakat Tana Toraja, orang yang sudah meninggal tidak dengan sendirinya
mendapat gelar orang mati. Bagi mereka sebelum terjadinya upacara Rambu Solo’
maka orang yang meninggal itu dianggap sebagai orang sakit. Karena statusnya
masih ‘sakit’, maka orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan
diperlakukan layaknya orang yang masih hidup, seperti menemaninya, menyediakan
makanan, minuman dan rokok atau sirih. Hal-hal yang biasanya dilakukan oleh
arwah, harus terus dijalankan seperti biasanya.
Jika
keluarga si mati itu belum mampu melaksanakan upacara Rambu Solo, jenazah itu
akan disimpan di tongkonan (rumah adat Toraja) sampai pihak keluarga mampu
menyediakan hewan kurban untuk melaksanakan upacara tersebut. Penyimpanan
jenazah itu bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Setelah
pihak keluarga mampu menyediakan hewan kurban tersebut, barulah Rambu Solo
dilaksanakan. Jenazah dipindahkan dari rumah duka ke tongkonan tammuon
(tongkonan pertama tempat dia berasal). Di sana dilakukan penyembelihan 1 ekor
kerbau sebagai kurban atau dalam bahasa Torajanya Ma’tinggoro Tedong, yaitu
cara penyembelihan khas orang Toraja, menebas kerbau dengan parang dengan satu
kali tebasan saja. Kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu
yang diberi nama Simbuang Batu. Setelah itu, kerbau tadi dipotong-potong dan
dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir.
Jenazah berada
di tongkonan pertama (tongkonan tammuon) hanya sehari, lalu keesokan harinya
jenazah akan dipindahkan lagi ke tongkonan yang berada agak ke atas lagi, yaitu
tongkonan barebatu, dan di sini pun prosesinya sama dengan di tongkonan yang
pertama, yaitu penyembelihan kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada
orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
Setelah
disimpan satu hari, jenazah dipindahkan ke tongkonan yang lebih tinggi, yaitu
tongkonan barebatu. Prosesinya juga sama saat jenazah itu dipindahkan ke
tongkonan tammuon., yaitu penyembelihan kerbau dan pembagian dagingnya kepada
orang-orang yang berada di sekitar tongkonan tersebut.
Seluruh
prosesi acara Rambu Solo’ selalu dilakukan pada siang hari. Siang itu sekitar
pukul 11.30 Waktu Indonesia Tengah (Wita), kami semua tiba di tongkonan
barebatu, karena hari ini adalah hari pemindahan jenazah dari tongkonan
barebatu menuju rante (lapangan tempat acara berlangsung).
Jenazah
diusung menggunakan duba-duba (keranda khas Toraja). Di depan duba-duba
terdapat lamba-lamba (kain merah yang panjang, biasanya terletak di depan
keranda jenazah, dan dalam prosesi pengarakan, kain tersebut ditarik oleh para
wanita dalam keluarga itu).
Prosesi
pengarakan jenazah dari tongkonan barebatu menuju rante dilakukan setelah
kebaktian dan makan siang. Barulah keluarga dekat arwah ikut mengusung keranda
tersebut. Para laki-laki yang mengangkat keranda tersebut, sedangkan wanita
yang menarik lamba-lamba.
Dalam
pengarakan terdapat urut-urutan yang harus dilaksanakan, pada urutan pertama
kita akan lihat orang yang membawa gong yang sangat besar, lalu diikuti dengan
tompi saratu (atau yang biasa kita kenal dengan umbul-umbul), lalu tepat di
belakang tompi saratu ada barisan tedong (kerbau) diikuti dengan lamba-lamba
dan yang terakhir barulah duba-duba.
Jenazah
tersebut akan disemayamkan di rante (lapangan khusus tempat prosesi
berlangsung), di sana sudah berdiri lantang (rumah sementara yang terbuat dari
bambu dan kayu) yang sudah diberi nomor. Lantang itu sendiri berfungsi sebagai
tempat tinggal para sanak keluarga yang datang nanti. Karena selama acara
berlangsung mereka semua tidak kembali ke rumah masing-masing tetapi menginap
di lantang yang telah disediakan oleh keluarga yang sedang berduka.
Iring-iringan
jenazah akhirnya sampai di rante yang nantinya akan diletakkan di lakkien
(menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Menara itu
merupakan bangunan yang paling tinggi di antara lantang-lantang yang ada di
rante. Lakkien sendiri terbuat dari pohon bambu dengan bentuk rumah adat
Toraja. Jenazah dibaringkan di atas lakkien sebelum nantinya akan dikubur. Di
rante sudah siap dua ekor kerbau yang akan ditebas.
Setelah
jenazah sampai di lakkien, acara selanjutnya adalah penerimaan tamu, yaitu sanak
saudara yang datang dari penjuru tanah air. Pada sore hari setelah prosesi
penerimaan tamu selesai, dilanjutkan dengan hiburan bagi para keluarga dan para
tamu undangan yang datang, dengan mempertontonkan ma’pasilaga tedong (adu
kerbau). Bukan main ramainya para penonton, karena selama upacara Rambu Solo’,
adu hewan pemamah biak ini merupakan acara yang ditunggu-tunggu.
Selama
beberapa hari ke depan penerimaan tamu dan adu kerbau merupakan agenda acara
berikutnya, penerimaan tamu terus dilaksanakan sampai semua tamu-tamunya berada
di tempat yang telah disediakan yaitu lantang yang berada di rante. Sore
harinya selalu diadakan adu kerbau, hal ini merupakan hiburan yang digemari
oleh orang-orang Tana Toraja hingga sampai pada hari penguburan. Baik itu yang dikuburkan
di tebing maupun yang di patane’ (kuburan dari kayu berbentuk rumah adat).
2.
Nilai-Nilai
yang Terkandung dalam Rambu Solo
Upacara
Rambu Solo memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat, di antaranya
adalah gotong royong dan tolong-menolong. Meskipun terlihat sebagai pemborosan
karena mencari harta untuk dihabiskan dalam suatu kematian, unsur gotong royong
yang terlihat sangatlah jelas, contohnya dalam hal penyediaan kerbau. Suatu
keluarga yang dirundung duka (yang ditinggal mati) mendapat sumbangan kerbau,
babi, atau uang dari sanak keluarganya untuk melangsungkan Rambu Solo.
Unsur
tolong-menolong pun juga berperan dalam pelaksanaan Rambu Solo. Upacara ini
dilakukan oleh siapa pun yang mampu. Biasanya, ada juga pembagian daging kerbau
kepada orang-orang yang tidak mampu. Hal ini menyebabkan adanya pengurangan
kesenjangan sosial.
Selain dua
nilai di atas, nilai religi juga tampak dari upacara Rambu Solo. Masyarakat
Toraja memaknai kematian sebagai suatu hal tak ditakuti karena mereka percaya
bahwa ada kehidupan setelah kematian. Bagi mereka, kematian adalah bagian dari
ritme kehidupan yang wajib dijalani. Walau boleh ditangisi, kematian juga
menjadi kegembiraan yang membawa manusia kembali menuju surga, asal-muasal
leluhur. Dengan kata lain, mereka percaya adanya kehidupan setelah kematian.
Dalam
upacara kematian Rambu Solo, kesedihan tidak terlau tergambar di wajah-wajah
keluarga yang berduka, sebab mereka punya waktu yang cukup untuk mengucapkan
selamat jalan kepada si mati, sebab jenazah yang telah mati biasanya disimpan
dalam rumah adat ( tongkonan ), disimpan bisa mencapai hitungan tahun. Maksud
dari jenazah disimpan ada beberapa alasan, pertama adalah menunggu
sampai keluarga bisa atau mampu untuk melaksanakan upacara kematian Rambu Solo,
kedua adalah menunggu sampai anak-anak dari si mati datang semua untuk
siap menghadiri pesta kematian ini. Karena mereka menganggap bahwa orang yang
telah mati namun belum diupacarakan tradisi Rambu Solo ini dianggap belum mati
dan dikatakan hanya sakit, karena statusnya masih “ sakit “. Orang yang sudah
meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan sebagai orang yang masih hidup.
D. Orang
Mati yang Hidup di Tana Toraja
Dari uraian ini tampaklah bahwa
keunkan Toraja terletak pada pandangan yang berhubungan dengan human agency,
keagenan manusia
( Giddens, 1990, Centrals problems
In Social Theory ) dalam menangani kekuatan-kekuatan alam gaib. Tetapi uniknya,
mereka tidak tunduk pada alam gaib khususnya yang berkaitan dengan
kekuatan-kekuatan supernatural.
Ada kekaguman bahkan ketakutan
dihadapannya, namun ada upaya mengontrolnya, dan bersahabat dengannya. Manusia
dapat mengontrol alam gaib ( arwah ) dan inilah yang membedakan dengan agama
besar lainnya dengan manusia selalu tunduk pada Sang Ilahi..
Ini pulalah yang menjelaskan mengap
orang mati diperlakukan sebagai orang hidup. Orang mati tidak pernah mati,
tetapi selalu hidup. Bukan hanya sebagai suatu pandangan hidup, melainkan
sesuatu yang masih dipraktikkan sampai sekarang. Mereka sangat akrab dengan si
“sakit” bahkan tidur bersamanya. Di Toraja Utara, kalau pasangan hidup mati,
sang istri atau sang suami tidur bersama dengan si mati dalam suatu kelambu.
Di sebuah desa Sillanang, ditemukan
sebuah kuburan masal. Kuburan masal itu terletak di sebuah gua, dan penduduk
setempat mengatakan bahwa mayat yang disimpan disana tidak pernah membusuk.
Disamping kuburan yang ajaib itu,
ada pula sebuah kisah mengenai mayat berjalan yang dikendalikan oleh seorang
pawang. Mayat itu dikatakan berjalan layaknya orang yang masih hidup, hanya
saja cara berjalannya agak terseok - seok.
Mayat itu dikendalikan dengan tujuan
untuk menuntunnya kembali ke tujuan akhirnya, yaitu rumahnya sendiri.
Diceritakan dahulu orang Toraja senang menjelajah daerah - daerah pegunungan. Mereka
tidak menggunakan alat transportasi apapun ketika menjelajah. Dalam
penjelajahan yang berat itu, beberapa orang tidak kuat untuk melanjutkan lagi
dan jatuh sakit. Karena bekal dan obat - obatan yang dibawa sangat minim,
anggota mereka yang sakit tadi akhirnya meninggal.
Karena mustahil untuk meninggalkan
mayat rekan mereka, dan akan sangat merepotkan bila harus membawa pulang
jenazahnya, maka dengan suatu ritual gaib, mereka membangkitkan mayat tersebut
dan mengendalikannya. Mereka menuntun mayat itu sampai ke rumahnya. Ada
pantangan yang tidak boleh dilakukan selama mayat itu belum sampai di rumahya,
mayat tidak boleh disentuh dengan orang lain kecuali pawang, jika dilakukan,
maka mantra yang ada pada sang mayat akan hilang.
1.
Sejarah Singkat Orang Mati yang
Hidup di Tanah Toraja
Cerita orang mati yang hidup sudah ada sejak dahulu kala.
ratusan tahun yang lalu konon terjadi perang saudara di Tana toraja yakni orang
Toraja Barat berperang melawan orang Toraja Timur. dalam peperangan tersebut
orang Toraja Barat kalah telak karena sebagian besar dari mereka tewas, tetapi
pada saat akan pulang ke kampung mereka seluruh mayat orang Toraja Barat
berjalan, sedangkan orang Toraja Timur walaupun hanya sedikit yang tewas tetapi
mereka menggotong mayat saudara mereka yang mati, karena kejadian tersebut maka
peperangan tersebut dianggap seri. pada keturunan selanjutnya orang-orang
Toraja sering menguburkan mayatnya dengan cara mayat tersebut berjalan sendiri
ke liang kuburnya.
\
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Indonesia mempunyai banyak
kebudayaan salah satunya yang terdapat di tana toraja, kebudayaan ini selain unik dan mearik juga menganadung nilai
sepiritual yang tinggi, jadi mesti dilestarikan, selain itu dapat pula menarik
wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Keistimewaan upacara rambu solo
terdapat pada puncak
dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di sebuah “lapangan
khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian ritual yang selalu
menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan jenazah
(ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada peti
jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung dengan cara mayat yang mati
berjalan untuk disemayamkan (ma‘popengkalo
alang) , dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir
(ma‘palao).
DAFTAR PUSTAKA
Saransi. Ahmad. Tradisi
Masyarakat di Sulawesi Selatan,Makassar:
Lamacca Press, 2003
Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Adat dan Upacara Kematian Daerah Sulawesi
Selatan,
Makassar: 14 Juli 2006.
wikipedia.org, www.korantempo.com,
mamasa-online.blogspot.com,( diakses tanggal 20 maret 2014 )
onezimus.wordpress.com ( diakses tanggal 20 maret 2014 )
http://www.anneahira.com/ kebudayaan-tana-toraja-rambuh-solo.tm
( diakses tanggal 20 maret 2014 )
http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja
( diakses tanggal 21 maret 2014 )
catatan : ini hanyalah karangan dan fiksi jika ada kesalahan yang sebenarnya di lapangan penulis minta maaf sebesar-besarnya...